klik ini dijamin anda puas.... -V-

Mesin Pencari

Custom Search

Sabtu, 04 Juni 2011

TIGA

Kedua mata Mahesa Birawa alias Suranyali yang menutup dalam tidur-tidur ayam
membuka lebar-lebar bila telinganya menangkap suara derap kaki kuda yang memasuki
pekarangan. Dia bangun dan melangkah cepat ke pintu muka. Dan matanya yang tadi
membuka lebar itu kini tampak membeliak. Setengah meloncat dia turun ke tanah.
“Ada apa dengan kalian?!” tanya Mahesa Birawa. Pertanyaan ini hampir
merupakan teriakan.
Kedua kuda itu berhenti. Penunggangnya Kalingundil dan Saksoko turun
perlahan-lahan. Pakaian mereka kotor oleh darah dan debu. Muka keduanya pucat pasi.
Melihat ini Mahesa Birawa segera maklum bahwa kedua anak buahnya itu mendapat luka
dalam yang parah.
Kalingundil berdiri terbungkuk-bungkuk sambil mengurut dada.
Pemandangannya masih berkunang-kunang. Saksoko begitu menginjakkan kakinya di
tanah segera tergelimpang, muntah darah lagi lalu pingsan!
Mahesa Birawa melompat dan cepat menubruk Saksoko. Dari dalam sabuknya
dikeluarkannya sebutir pil dan dimasukkannya ke dalam mulut Saksoko. Sebutir lagi
kemudian diberikannya pada Kalngundil.
“Telan cepat!” katanya. “Kalau sudah lekas atur jalan nafas dan darahmu!”
Kalingundil menelan pil yang diberikan lalu cepat-cepat duduk bersila di tanah
untuk mengatur jalan nafas dan darahnya. Tak lupa dia mengalirkan tenaga dalamnya ke
bagian tubuh yang tadi kena terpukul.
Satu jam kemudian keadaan Kalingundil boleh dikatakan telah kembali seperti
semula. Saksoko juga telah siuman meski masih berbaring menelentang di atas sebuah
tempat tidur.
“Sekarang,” kata Mahesa Birawa sangat tidak sabar dan sambil menggeprak meja,
“terangkan apa yang terjadi Kalingundil!”
Kalingundil tarik nafas panjang. Diurutnya dadanya beberapa kali lalu mulailah
dia memberi keterangan. Dan bila Mahesa Birawa selesai mendengar keterangan itu
maka mendidih darah di kepalanya. Mukanya hitam membesi. Kumisnya yang tebalഊmelintang bergetar. Matanya yang memang sudah besar itu dalam keadaan melotot
seperti mau tanggal dari rongganya!
“Kalingundil! Siapkan kudaku! Panggil Majineng dan Krocoweti. Kalian bertiga
ikut aku ke tempatnya itu manusia haram jadah! Lekas.…!”
Kalingundil tanpa banyak bicara tinggalkan tempat itu. Tak lama kemudian
kelihatanlah empat orang penunggang kuda menderu laksana terbang. Debu mengepul,
pasir berhamparan. Mahesa Birawa memacu kudanya di muka sekali.
Orang tua bernama Jarot Karsa itu mengusap dagunya. Tanpa berpaling pada
Ranaweleng yang berdiri di sampingnya dengan mata memandang tajam ke muka dia
berkata: “Dugaan kita tidak salah Raden. Mereka datang, agaknya yang di depan sendiri
itu adalah manusia yang bernama Mahesa Birawa….”
Ranaweleng memandang pula ke muka. Hatinya mengeluh. Inilah hari pertama
selama menjadi Kepala Kampung dia menghadapi kesukaran dan kekerasan macam
begini! Bahkan dia tadi belum sempat menyelesaikan pembicaraannya dengan Suci
ketika Jarot Karsa memanggilnya, memberitahu kedatangan empat penunggang kuda itu.
Ketika Mahesa Birawa sampai di halaman, Suci pun saat itu sudah berdiri di belakang
suaminya.
Mahesa Birawa hentikan kudanya. Sorotan matanya seganas serigala kelaparan
tertuju pada Ranaweleng. Di belakangnya Kalingundil memberikan kisikan.
“Laki-laki tua yang berdiri di dekat tiang itulah bangsatnya yang telah mencelakai
aku dan Saksoko. Hati-hati terhadap dia Mahesa. Ilmunya tinggi sekali….”
“Kau manusia kintel tutup mulut! Tak usah kasih nasihat padaku!” membentak
Mahesa Birawa.
Kalingundil terdiam. Digigitnya bibirnya. Dan saat itu dendam serta bencinya
terhadap kedua orang yang berdiri di langkan rumah itu, terutama Jarot Karsa, tak dapat
lagi dilukiskan.
Mahesa Birawa memandang sekilas pada Suci yang berdiri di belakang suaminya.
Nafsu untuk dapat memiliki perempuan ini yang tak kesampaian atau belum kesampaian
membuat amarahnya semakin meluap-luap. Dadanya seperti mau pecah. Saat itu meski
sudah bersuami dan punya anak satu tapi Suci dilihatnya semakin tambah cantik dan
muda jelita.ഊBola mata Mahesa Birawa bergerak ke jurusan Jarot Karsa setelah terlebih dahulu
menyapu tampang Ranaweleng dengan garangnya.
“Anjing tua yang di atas langkan turunlah untuk menerima mampus!”
Suara Mahesa Birawa begitu lantang dan menggetarkan karena disertai tenaga
dalam yang tinggi sudah mencapai puncak kesempurnaannya.
Jarot Karsa sunggingkan senyum tawar. Sekali dia menggerakkan kedua kakinya
maka setengah detik kemudian dia sudah berdiri di tanah, beberapa tombak di hadapan
kuda Mahesa Birawa. Gerakannya waktu melompat tadi enteng sekali. Senyum datar
yang mengejek tersungging lagi di muka orang tua ini.
“Ini manusianya yang bernama Mahesa Birawa?! Yang inginkan isteri orang?!
Kalau kau tidak sedeng tentu sinting! Apa kunyukmu yang satu ini sudah kasih tahu
padamu agar mencari dukun untuk mengobati otak miringmu?!”
Bergetar badan Mahesa Birawa mulai dari ubun-ubun sampai ke ujung jari-jari
kaki!
“Anjing tua yang tak tahu diri, hari ini terpaksa kau harus pasrahkan nyawa
kepadaku!”
Mahesa Birawa enjot diri, melompat turun dari kuda. Dalam keadaan tubuh
melayang demikian rupa kedua tangannya dipukulkan ke muka. Dua rangkum angin
sedahsyat badai membungkuk itu Debu dan pasir menggebubu!
Jarot Karsa melengking dan melompat setinggi tiga tombak ke atas. Angin
pukulan yang dahsyat lewat di bawah kedua kakinya.
Pada detik dia hendak mengirimkan serangan balasan maka berserulah
Ranaweleng.
“Bapak Jarot minggirlah! Biar aku yang hadapi manusia pengacau ini!”
“Ah Raden ….” Kata Jarot Karsa dalam keadaan tubuh masih mengapung di
udara. “Biarlah aku yang sudah tua ini kasih pelajaran padanya! Tak usah Raden bersusah
payah. Dalam satu dua jurus ini akan kusapu badannya keluar halaman!”
Mahesa Birawa kertakkan rahang. Dua tinjunya bergerak susul menyusul. Deru
angin yang dahsyat melanda ke arah Jarot Karsa. Si orang tua yang rupanya ingin
menjajaki sampai di mana ketinggian tanaga dalam lawan balas mengirimkan pukulan
tangan kosong.ഊLetusan sedahsyat meriam berdentum ketika dua tenaga dalam itu saling
bentrokan di udara. Gendang-gendang telinga seperti menjadi pecah dan pekak. Tubuh
Mahesa Birawa kelihatan berdiri gontai beberapa detik lamanya sedangkan Jarot Karsa
jatuh duduk di tanah, mandi keringat dingin!
Bukan saja Jarot Karsa sendiri, tapi Ranaweleng pun kagetnya bukan main. Suci
yang berdiri di belakang suaminya dan menyaksikan itu menjerit tertahan karena
menyangka si orang tua mendapat celaka besar. Ternyata tenaga dalam Mahesa Birawa
demikian tingginya lebih tinggi dari tenaga dalam Jarot Karsa.
Tahu kalau tenaga dalam lawan lebih unggul dari dia, Jarot Karsa segera
melompat dan menyerang. Kedua tangannya bergerak demikian cepat hampir tak
kelihatan, menyapu-nyapu dan sekali-sekali menjotos ke muka dengan dahsyatnya.
Hampir dua jurus Mahesa Birawa terkurung oleh pukulan-pukulan yang anginnya
memerihkan matanya. Mahesa Birawa atau Suranyali mau tak mau mempercepat pula
gerakannya. Tubuhnya kini laksana bayang-bayang. Bila satu jurus lagi berlalu maka
Jarot Karsa mulai merasakan tekanan-tekanan serangan yang membuatnya harus berhati-hati.
Tiga jurus lagi berlalu. Tubuh kedua manusia itu sudah hampir tak kelihatan
karena cepatnya gerakan mereka ditambah lagi dengan debu serta pasir yang
menggebubu ke udara menutupi keduanya.
Tiba-tiba diiringi dengan lengkingan yang menggetarkan dengan satu gerakan
yang sukar ditangkap oleh mata Jarot Karsa, dengan mengandalkan ilmu mengentengi
tubuhnya yang lebih tinggi sedikit dari lawan dia menyorongkan siku kirinya ke muka.
Tubuh lawan dilihatnya mengelak ke samping dan sekaligus tangannya yang lain
memapaki gerakan mengelak dari Mahesa Birawa.
“Buk!”
Mahesa Birawa terjajar sampai dua tombak ke belakang. Mulutnya memencong
menahan sakit pukulan tangan kanan Jarot Karsa yang bersarang di dada kirinya. Cepat-cepat
dialirkannya tenaga dalam ke bagian yang kena pukul itu, Jarot Karsa tertawa
mengekeh.
“Jika kau masih juga belum mau angkat kaki dari sini bersama kunyuk-kunyukmu
itu, jangan menyesal kalau mukamu nanti akan benjat benjut macam mangga busuk!”ഊTampang Mahesa Birawa kelam membesi. Kedua kakinya merenggang. Tangan
kiri dipentang lurus-lurus ke muka. Tangan kanan ditarik tinggi-tinggi ke belakang di atas
kepala. Pelipisnya kelihatan bergerak-gerak. Tangan kanan Mahesa Birawa kemudian
kelihatan menjadi hijau, makin hijau dan bergeletar.
“Bangsat tua bangka!” kertak Mahesa Birawa, “Lihat tangan kananku. Kenalkah
kau akan pukulan yang akan kulepaskan ini….!”
Jarot Karsa kerutkan kening. Matanya memandang lekat-lekat ke tangan kanan
Mahesa Birawa yang semakin lama semakin bertambah hijau itu. Meski dia sudah hidup
hampir tujuh puluh tahun, meski pengalamannya di dunia persilatan setinggi langit
sedalam lautan namun kali ini mau tak mau tergetar juga hatinya melihat tangan kanan
lawan itu, ditambah lagi dia sama sekali tidak tahu ilmu pukulan apakah yang akan
dilancarkan oleh lawannya!
Akan Ranaweleng, begitu melihat tangan kanan Mahesa Birawa yang menjadi
hijau itu, kagetnya bukan main. Dengan cepat dia memberikan kisikan pada Jarot Karsa
dengan mempergunakan ilmu “Menyusupkan Suara”.
“Bapak Jarot, hati-hati. Pukulan yang hendak dilepaskan itu adalah pukulan
Kelabang Hijau. Hebatnya bukan main dan sangat beracun….”
Jarot Karsa menindih rasa terkejutnya. “Pukulan Kelabang Hijau….” Keluhnya
dalam hati. Hampir-hampir tak dapat dipercayanya kalau tidak menyaksikan sendiri. Dia
tahu betul bahwa di dunia persilatan hanya ada satu manusia yang memiliki ilmu pukulan
yang dahsyat ini yaitu seorang Resi bernama Tapak Gajah yang diam di lereng Gunung
Lawu. Tapi kini muncul seorang lain yang memiliki ilmu pukulan itu. Apakah Mahesa
Birawa ini muridnya Tapak Gajah?
Kerut-kerut pada kening Jarot Karsa mengendur sedikit. Dicobanya menunjukkan
mimik mengejek.
“Hanya pukulan Kelabang Hijau, apakah perlu ditakutkan …!” kata seorang tua
bungkuk itu.
Diam-diam Mahesa Birawa menjadi kaget melihat bahwa lawan mengetahui ilmu
pukulan yang hendak dilepaskannya. Cepat dia membentak.
“Kalau sudah tahu mengapa tidak segera berlutut, anjing tua?!”ഊ“Hanya monyet edan yang akan mau berlutut di hadapanmu Mahesa Birawa.
Terimalah ini ….”
Dan Jarot Karsa mendahului melepaskan pukulan tangan kosong yang dahsyat.
Setengah tombak lagi angin pukulan yang menghembuskan maut itu melanda
tubuh dan kepala Mahesa Birawa maka kelihatanlah laki-laki ini meninjukan tangan
kanannya ke muka!
Setiup angin laksana topan prahara dan mengeluarkan sinar hijau melesat ke
muka. Angin pukulan Jarot Karsa terdorong dan balik menyerang orang tua itu sendiri!
Jarot Karsa melompat ke samping. Tapi tak keburu. Sinar hijau pukulan Kelabang
Hijau telah melanda pinggangnya. Suci menjerit dan menutup mukanya dengan kedua
tangan. Orang tua itu berteriak setinggi langit. Tubuhnya terguling di tanah. Kulitnya
kelihatan hijau. Dia mengerang dan menggelepar-gelepar seketika, kemudian bila
nafasnya lepas, maka tubuhnya melingkar tanpa nyawa!
“Manusia biadab!” bentak Ranaweleng. “Orangku tiada permusuhan dengan kau.
Mengapa kau bunuh dia?!”
Mahesa Birawa atau Suranyali tertawa mengekeh.
“Sebentar lagi kau juga akan mampus, Ranaweleng! Tapi aku masih berbaik hati
untuk membiarkan kau angkat kaki dari sini. Kalau kau masih keras kepala ketahuilah
bahwa ajal sudah di depan mata!” Dan Mahesa Birawa tertawa lagi macam tadi.
“Hari ini aku mengadu nyawa dengan kau manusia iblis!” teriak Ranaweleng.
Maka menerjanglah Kepala Kampung Jatiwalu itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar