klik ini dijamin anda puas.... -V-

Mesin Pencari

Custom Search

Sabtu, 04 Juni 2011

EMPAT

EMPAT
“Manusia keparat yang tidak tahu diri, hari ini terimalah mampus di tanganku!” bentak
Mahesa Birawa seraya angkat lengan kirinya untuk menangkis pukulan lawan.
Dua lengan beradu keras, Ranaweleng terpelanting ke belakang sedang Mahesa
Birawa hanya terjajar beberapa langkah saja. Lengan Ranaweleng yang beradu dengan
lengan Mahesa Birawa kelihatan kemerahan dan perih. Laki-laki ini menggigit bibir
menahan sakit. Dia maklum bahwa tenaga dalamnya lebih rendah dari lawan. Karena itu
dengan mempergunakan ilmu mengentengi tubuhnya yang sudah sampai ke puncaknya,
Ranaweleng sebagaimana Jarot Karsa tadi bergerak dengan cepat dan melancarkan
serangan-serangan ganas. Namun sampai di mana kemampuan Ranaweleng ini sudah
dapat dijajaki oleh Mahesa Birawa. Ranaweleng tidak lebih digdaya dari Jarot Karsa.
Sementara itu di langkan rumah terdengar jeritan-jeritan Suci pada kedua orang
yang berkelahi itu.
“Suranyali! Kakang Rana! Hentikanlah perkelahian ini! Hentikanlah!”
Suci tidak pernah tahu kalau Suranyali telah berganti nama menjadi Mahesa
Birawa. Dan dia berteriak lagi. “Kalian berdua tidak mempunyai permusuhan, mengapa
musti berkelahi?”
“Suci, masuklah ke dalam!” sahut Ranaweleng kepada istrinya. Saat itu dia harus
jungkir balik di udara mengelakkan pukulan lawannya.
Di pihak Mahesa Birawa sudah barang tentu tiada niat sama sekali untuk
menghentikan perkelahian. Bahkan teriakan-teriakan Suci tadi mendorongnya untuk lebih
cepat menamatkan riwayat Ranaweleng!
Dalam sekejap saja kedua orang itu telah bertempur delapan jurus dan
kelihatanlah dengan nyata betapa Ranaweleng terdesak dengan hebat. Pukulan-pukulan
tangan kosong lawan mengurungnya dari berbagai jurusan. Dengan membentak keras
serta mempercepat gerakannya dan mengandalkan ilmu mengentengi tubuh Ranaweleng
berusaha keluar dari kurungan pukulan lawan. Namun percuma saja. Tubuh Mahesa
Birawa laksana bayang-bayang. Bergerak cepat sekali. Dan pada jurus kesepuluh satu
hantaman sikut kiri yang keras sekali menyambar rusuk kanan Ranaweleng.ഊRanaweleng merintih tertahan. Mukanya kelihatan pucat kebiruan. Dia tahu
sekurang-kurangnya dua dari tulang iganya telah patah dan tubuhnya di bagian dalam
terluka hebat! Untuk beberapa lamanya dia berdiri limbung dengan pemandangan mata
berkunang-kunang.
“Ha, ha ….” Tertawa Mahesa Birawa. “Sebentar lagi Ranaweleng, sebentar lagi
ajalmu akan sampai … Lebih bagus cepat-cepat kau minta tobat pada Tuhanmu sebelum
mampus!”
Mulut Ranaweleng komat kamit. Rahang-rahangnya menggembung. Kedua
tangannya terpentang ke muka. Dia bersiap-siap untuk melancarkan pukulan tangan
kosong yang dahsyat. Di lain pihak Mahesa Birawa berdiri laksana tugu. Kedua kakinya
tenggelam satu senti ke dalam tanah. Tenaga dalamnya dialirkan ke segenap bagian tubuh
untuk menghadapi serangan lawan.
Tiba-tiba jeritan sedahsyat angin putting beliung keluar dari mulut Ranaweleng.
Kedua tangannya bergerak susul menyusul dan gelombang Angin Panas menderu ke arah
Mahesa Birawa. Yang diserang membentak dahsyat dan lompat tiga tombak ke udara.
Begitu angin panas menggebubu di bawah kakinya, membakar hangus pohon-pohon di
belakangnya, maka Mahesa Birawa segera menukik ke bawah laksana seekor elang.
Pukulan Angin Panas yang dilakukan oleh Ranaweleng membutuhkan pemusatan
tenaga dan pikiran yang besar. Beberapa detik sesudah dia melancarkan pukulan tersebut,
keadaan dirinya masih terbungkus oleh pemusatan itu sehingga pada saat lawannya
menukik dari atas dia terlambat menyingkir. Untuk kedua kalinya Ranaweleng harus
menerima hantaman lawan. Kali ini badannya hampir terjungkal ke tanah. Masih untung
dia sempat menggulingkan diri kalau tidak pastilah tendangan kaki kanan Mahesa Birawa
yang mengarah perutnya menamatkan riwayatnya!
Begitu bangun, karena tahu bahwa dia tidak akan sanggup menghadapi lawan
dengan tangan kosong maka Ranaweleng segera cabut keris eluk tujuh dari balik
pinggang!
Tapi betapa terkejutnya Ranaweleng ketika melihat ke muka. Mahesa Birawa
berdiri dengan kedua kaki terpentang. Tangan kiri lurus-lurus ke muka, tangan kanan
diangkat tinggi-tinggi di belakang kepala dan kedua tangan itu sudah menjadi hijau oleh
racun ilmu pukulan Kelabang Hijau!ഊSuci yang telah melihat kedahsyatan pukulan Kelabang Hijau itu menjerit keras.
“Sura! Jangan…! Hentikan perkelahian ini!”
Suranyali alias Mahesa Birawa sunggingkan senyum berbau maut. “Jika kau
punya sepuluh senjata, keluarkanlah sekaligus Ranaweleng” katanya mengejek.
Hati Ranaweleng tergetar hebat. Keringat dingin membasahi badannya. Seperti
halnya dengan Jarot Karsa dia tak akan sanggup menghadapi kedahsyatan pukulan
Kelabang Hijau tersebut. Tapi untuk lari menyelamatkan diri, sebagai seorang laki-laki,
sebagai seorang berjiwa kesatria, tiada ada dalam kamus hidup Ranaweleng. Lebih baik
mati berkalang tanah daripada hidup sebagai pengecut! Lagi pula dia sudah tahu benar
bahwa lawan betul-betul menginginkan nyawanya. Karena itu Ranaweleng ambil
keputusan untuk mendahului menyerang.
Dengan keris sakti di tangan, Ranaweleng menerjang ke muka. Namun tetap sia-sia
saja. Pada detik tubuhnya baru dalam setengah lompatan, tangan kanan Mahesa
Birawa telah memukul ke depan!
Suci menjerit. Tubuh Ranaweleng mencelat mental dan jatuh di tanah tanpa
nyawa. Sekujur kulit tubuhnya bahkan sampai-sampai kepada keris sakti yang saat itu
masih tergenggam di tangannya menjadi hijau oleh racun ilmu pukulan Kelabang Hijau!
Suci menjerit lagi lalu lari menubruk suaminya. Tapi Mahesa Birawa cepat
melompat ke muka dan mencekal perempuan itu. Kalau sampai Suci menyentuh tubuh
suaminya yang mati hijau itu maka dalam sekejapan racun yang menyerap di tubuh
Ranaweleng akan mengalir ke tubuh Suci dan pastilah perempuan ini akan meregang
nyawa pula!
“Lepaskan aku! Lepaskan aku manusia terkutuk! Biadab!” pekik Suci.
“Sedikit saja kau menyentuh tubuh laki-laki itu kau akan keracunan Suci …”
“Aku tidak takut! Aku juga ingin mati …!”
“Kau masih terlalu muda untuk mati …!”
Dan dengan sekali gerakan tangannya maka Mahesa Birawa segera membopong
Suci di bahunya. Karena perempuan itu masih meronta-ronta dan menjerit-jerit serta
memukuli punggungnya maka Mahesa Birawa segera menotok urat darah besar di
pangkal leher Suci sehingga perempuan itu menjadi kejang kaku kini.ഊSambil melangkah ke kudanya Mahesa Birawa memerintah pada ketiga orang
anak buahnya.
“Bakar rumah keparat itu!”
Kalingundil dan Krocoweti serta Majineng segera laksanakan perintah itu. Dalam
sekejapan mata maka tenggelamlah rumah besar Kepala Kampung Jatiwalu itu dalam
kobaran api.
Senyum puas membayang di muka Mahesa Birawa. Bila sebagian dari rumah itu
sudah musnah di makan api maka bersama anak buahnya segera ditinggalkannya tempat
itu.
Jeritan bayi yang baru berumur beberapa bulan terdengar melengking-lengking di
antara kobaran lidah-lidah api yang membakar rumah.
“Bayi itu! Bayi itu ….!” Teriak salah seorang di antara orang banyak yang
berkerubung di halaman rumah Kepala Kampung.
“Oroknya Den Rana….! Aduh kasihan!”
“Kalau tidak lekas ditolong pasti mati!”
Tapi semua orang di situ hanya bisa berteriak dan berteriak. Mana mereka berani
menghambur memasuki kobaran lidah api guna menyelamatkan bayi itu. Dan suara
tangisan bayi semakin lama semakin kecil serta parau sementara nyala api mulai
membakar tempat tidur di mana bayi itu terbaring!
Pada saat suara tangisan bayi yang menyayat hati itu hampir tidak lagi
kedengaran, pada saat orang banyak sudah tak tahu lagi apa yang mesti mereka perbuat
untuk menyelamatkan itu orok maka pada saat itu pula, entah dari mana datangnya
kelihatan sesosok bayangan berkelebat dan lenyap masuk ke dalam kobaran api. Sesaat
kemudian sosok tubuh itu keluar lagi dan melesat ke halaman lalu lenyap di jurusan
Timur. Demikian cepat dan sebatnya sosok tubuh tiu bergerak sehingga tidak satu orang
pun yang dapat melihat siapa adanya manusia tersebut ataukah betul bisa memastikan
bahwa sosok tubuh itu adalah sesungguhnya manusia, bukan setan atau dedemit!
Jangankan untuk melihat wajahnya, untuk memastikan apakah sosok tubuh itu laki-laki
atau perempuan, juga tak satu orang pun yang bisa! Begitu cepat dia datang, begitu cepat
dia lenyap! Hanya warna pakaiannya yang hitam saja yang bisa dilihat mata orang
banyak saat itu. Dan hanya beberapa detik saja sesudah bayangan sosok tubuh itu lenyapഊmaka rumah Ranaweleng yang terbakar itu runtuh ambruk dan lidah api menggelombang
tinggi ke udara!
Siapapun adanya sosok tubuh itu, entah dia manusia atau bukan, entah dia laki-laki
atau perempuan tapi yang pasti dan semua orang di situ tahu bahwa sosok tubuh itu
telah menyelamatkan bayi Ranaweleng dan melarikannya ke arah timur!
Ketika Mahesa Birawa membuka pintu kamar dan membaringkan Suci di atas
tempat tidur dan secara tak sengaja memandang ke dinding, maka meluncurlah seruan
tertahan dari mulut laki-laki ini!
Pada dinding papan kayu jati yang keras itu tertulis rangkaian kalimat yang
berbunyi:
APA YANG KAU LAKUKAN HARI INI AKAN KAU TERIMA BALASANNYA
PADA TUJUH BELAS TAHUN MENDATANG!
Tiada tertera nama dari siapa yang menulis tulisan pada dinding itu. Tulisan ini
dibuat dengan sangat cepat. Dan Mahesa Birawa tahu kalau bukannya manusia yang
mempunyai tenaga dalam luar biasa dahsyatnya pastilah tak akan sanggup membuat
tulisan semacam itu pada dinding kayu jati yang keras, karena tulisan itu dibuat dengan
mempergunakan ujung jari!

TIGA

Kedua mata Mahesa Birawa alias Suranyali yang menutup dalam tidur-tidur ayam
membuka lebar-lebar bila telinganya menangkap suara derap kaki kuda yang memasuki
pekarangan. Dia bangun dan melangkah cepat ke pintu muka. Dan matanya yang tadi
membuka lebar itu kini tampak membeliak. Setengah meloncat dia turun ke tanah.
“Ada apa dengan kalian?!” tanya Mahesa Birawa. Pertanyaan ini hampir
merupakan teriakan.
Kedua kuda itu berhenti. Penunggangnya Kalingundil dan Saksoko turun
perlahan-lahan. Pakaian mereka kotor oleh darah dan debu. Muka keduanya pucat pasi.
Melihat ini Mahesa Birawa segera maklum bahwa kedua anak buahnya itu mendapat luka
dalam yang parah.
Kalingundil berdiri terbungkuk-bungkuk sambil mengurut dada.
Pemandangannya masih berkunang-kunang. Saksoko begitu menginjakkan kakinya di
tanah segera tergelimpang, muntah darah lagi lalu pingsan!
Mahesa Birawa melompat dan cepat menubruk Saksoko. Dari dalam sabuknya
dikeluarkannya sebutir pil dan dimasukkannya ke dalam mulut Saksoko. Sebutir lagi
kemudian diberikannya pada Kalngundil.
“Telan cepat!” katanya. “Kalau sudah lekas atur jalan nafas dan darahmu!”
Kalingundil menelan pil yang diberikan lalu cepat-cepat duduk bersila di tanah
untuk mengatur jalan nafas dan darahnya. Tak lupa dia mengalirkan tenaga dalamnya ke
bagian tubuh yang tadi kena terpukul.
Satu jam kemudian keadaan Kalingundil boleh dikatakan telah kembali seperti
semula. Saksoko juga telah siuman meski masih berbaring menelentang di atas sebuah
tempat tidur.
“Sekarang,” kata Mahesa Birawa sangat tidak sabar dan sambil menggeprak meja,
“terangkan apa yang terjadi Kalingundil!”
Kalingundil tarik nafas panjang. Diurutnya dadanya beberapa kali lalu mulailah
dia memberi keterangan. Dan bila Mahesa Birawa selesai mendengar keterangan itu
maka mendidih darah di kepalanya. Mukanya hitam membesi. Kumisnya yang tebalഊmelintang bergetar. Matanya yang memang sudah besar itu dalam keadaan melotot
seperti mau tanggal dari rongganya!
“Kalingundil! Siapkan kudaku! Panggil Majineng dan Krocoweti. Kalian bertiga
ikut aku ke tempatnya itu manusia haram jadah! Lekas.…!”
Kalingundil tanpa banyak bicara tinggalkan tempat itu. Tak lama kemudian
kelihatanlah empat orang penunggang kuda menderu laksana terbang. Debu mengepul,
pasir berhamparan. Mahesa Birawa memacu kudanya di muka sekali.
Orang tua bernama Jarot Karsa itu mengusap dagunya. Tanpa berpaling pada
Ranaweleng yang berdiri di sampingnya dengan mata memandang tajam ke muka dia
berkata: “Dugaan kita tidak salah Raden. Mereka datang, agaknya yang di depan sendiri
itu adalah manusia yang bernama Mahesa Birawa….”
Ranaweleng memandang pula ke muka. Hatinya mengeluh. Inilah hari pertama
selama menjadi Kepala Kampung dia menghadapi kesukaran dan kekerasan macam
begini! Bahkan dia tadi belum sempat menyelesaikan pembicaraannya dengan Suci
ketika Jarot Karsa memanggilnya, memberitahu kedatangan empat penunggang kuda itu.
Ketika Mahesa Birawa sampai di halaman, Suci pun saat itu sudah berdiri di belakang
suaminya.
Mahesa Birawa hentikan kudanya. Sorotan matanya seganas serigala kelaparan
tertuju pada Ranaweleng. Di belakangnya Kalingundil memberikan kisikan.
“Laki-laki tua yang berdiri di dekat tiang itulah bangsatnya yang telah mencelakai
aku dan Saksoko. Hati-hati terhadap dia Mahesa. Ilmunya tinggi sekali….”
“Kau manusia kintel tutup mulut! Tak usah kasih nasihat padaku!” membentak
Mahesa Birawa.
Kalingundil terdiam. Digigitnya bibirnya. Dan saat itu dendam serta bencinya
terhadap kedua orang yang berdiri di langkan rumah itu, terutama Jarot Karsa, tak dapat
lagi dilukiskan.
Mahesa Birawa memandang sekilas pada Suci yang berdiri di belakang suaminya.
Nafsu untuk dapat memiliki perempuan ini yang tak kesampaian atau belum kesampaian
membuat amarahnya semakin meluap-luap. Dadanya seperti mau pecah. Saat itu meski
sudah bersuami dan punya anak satu tapi Suci dilihatnya semakin tambah cantik dan
muda jelita.ഊBola mata Mahesa Birawa bergerak ke jurusan Jarot Karsa setelah terlebih dahulu
menyapu tampang Ranaweleng dengan garangnya.
“Anjing tua yang di atas langkan turunlah untuk menerima mampus!”
Suara Mahesa Birawa begitu lantang dan menggetarkan karena disertai tenaga
dalam yang tinggi sudah mencapai puncak kesempurnaannya.
Jarot Karsa sunggingkan senyum tawar. Sekali dia menggerakkan kedua kakinya
maka setengah detik kemudian dia sudah berdiri di tanah, beberapa tombak di hadapan
kuda Mahesa Birawa. Gerakannya waktu melompat tadi enteng sekali. Senyum datar
yang mengejek tersungging lagi di muka orang tua ini.
“Ini manusianya yang bernama Mahesa Birawa?! Yang inginkan isteri orang?!
Kalau kau tidak sedeng tentu sinting! Apa kunyukmu yang satu ini sudah kasih tahu
padamu agar mencari dukun untuk mengobati otak miringmu?!”
Bergetar badan Mahesa Birawa mulai dari ubun-ubun sampai ke ujung jari-jari
kaki!
“Anjing tua yang tak tahu diri, hari ini terpaksa kau harus pasrahkan nyawa
kepadaku!”
Mahesa Birawa enjot diri, melompat turun dari kuda. Dalam keadaan tubuh
melayang demikian rupa kedua tangannya dipukulkan ke muka. Dua rangkum angin
sedahsyat badai membungkuk itu Debu dan pasir menggebubu!
Jarot Karsa melengking dan melompat setinggi tiga tombak ke atas. Angin
pukulan yang dahsyat lewat di bawah kedua kakinya.
Pada detik dia hendak mengirimkan serangan balasan maka berserulah
Ranaweleng.
“Bapak Jarot minggirlah! Biar aku yang hadapi manusia pengacau ini!”
“Ah Raden ….” Kata Jarot Karsa dalam keadaan tubuh masih mengapung di
udara. “Biarlah aku yang sudah tua ini kasih pelajaran padanya! Tak usah Raden bersusah
payah. Dalam satu dua jurus ini akan kusapu badannya keluar halaman!”
Mahesa Birawa kertakkan rahang. Dua tinjunya bergerak susul menyusul. Deru
angin yang dahsyat melanda ke arah Jarot Karsa. Si orang tua yang rupanya ingin
menjajaki sampai di mana ketinggian tanaga dalam lawan balas mengirimkan pukulan
tangan kosong.ഊLetusan sedahsyat meriam berdentum ketika dua tenaga dalam itu saling
bentrokan di udara. Gendang-gendang telinga seperti menjadi pecah dan pekak. Tubuh
Mahesa Birawa kelihatan berdiri gontai beberapa detik lamanya sedangkan Jarot Karsa
jatuh duduk di tanah, mandi keringat dingin!
Bukan saja Jarot Karsa sendiri, tapi Ranaweleng pun kagetnya bukan main. Suci
yang berdiri di belakang suaminya dan menyaksikan itu menjerit tertahan karena
menyangka si orang tua mendapat celaka besar. Ternyata tenaga dalam Mahesa Birawa
demikian tingginya lebih tinggi dari tenaga dalam Jarot Karsa.
Tahu kalau tenaga dalam lawan lebih unggul dari dia, Jarot Karsa segera
melompat dan menyerang. Kedua tangannya bergerak demikian cepat hampir tak
kelihatan, menyapu-nyapu dan sekali-sekali menjotos ke muka dengan dahsyatnya.
Hampir dua jurus Mahesa Birawa terkurung oleh pukulan-pukulan yang anginnya
memerihkan matanya. Mahesa Birawa atau Suranyali mau tak mau mempercepat pula
gerakannya. Tubuhnya kini laksana bayang-bayang. Bila satu jurus lagi berlalu maka
Jarot Karsa mulai merasakan tekanan-tekanan serangan yang membuatnya harus berhati-hati.
Tiga jurus lagi berlalu. Tubuh kedua manusia itu sudah hampir tak kelihatan
karena cepatnya gerakan mereka ditambah lagi dengan debu serta pasir yang
menggebubu ke udara menutupi keduanya.
Tiba-tiba diiringi dengan lengkingan yang menggetarkan dengan satu gerakan
yang sukar ditangkap oleh mata Jarot Karsa, dengan mengandalkan ilmu mengentengi
tubuhnya yang lebih tinggi sedikit dari lawan dia menyorongkan siku kirinya ke muka.
Tubuh lawan dilihatnya mengelak ke samping dan sekaligus tangannya yang lain
memapaki gerakan mengelak dari Mahesa Birawa.
“Buk!”
Mahesa Birawa terjajar sampai dua tombak ke belakang. Mulutnya memencong
menahan sakit pukulan tangan kanan Jarot Karsa yang bersarang di dada kirinya. Cepat-cepat
dialirkannya tenaga dalam ke bagian yang kena pukul itu, Jarot Karsa tertawa
mengekeh.
“Jika kau masih juga belum mau angkat kaki dari sini bersama kunyuk-kunyukmu
itu, jangan menyesal kalau mukamu nanti akan benjat benjut macam mangga busuk!”ഊTampang Mahesa Birawa kelam membesi. Kedua kakinya merenggang. Tangan
kiri dipentang lurus-lurus ke muka. Tangan kanan ditarik tinggi-tinggi ke belakang di atas
kepala. Pelipisnya kelihatan bergerak-gerak. Tangan kanan Mahesa Birawa kemudian
kelihatan menjadi hijau, makin hijau dan bergeletar.
“Bangsat tua bangka!” kertak Mahesa Birawa, “Lihat tangan kananku. Kenalkah
kau akan pukulan yang akan kulepaskan ini….!”
Jarot Karsa kerutkan kening. Matanya memandang lekat-lekat ke tangan kanan
Mahesa Birawa yang semakin lama semakin bertambah hijau itu. Meski dia sudah hidup
hampir tujuh puluh tahun, meski pengalamannya di dunia persilatan setinggi langit
sedalam lautan namun kali ini mau tak mau tergetar juga hatinya melihat tangan kanan
lawan itu, ditambah lagi dia sama sekali tidak tahu ilmu pukulan apakah yang akan
dilancarkan oleh lawannya!
Akan Ranaweleng, begitu melihat tangan kanan Mahesa Birawa yang menjadi
hijau itu, kagetnya bukan main. Dengan cepat dia memberikan kisikan pada Jarot Karsa
dengan mempergunakan ilmu “Menyusupkan Suara”.
“Bapak Jarot, hati-hati. Pukulan yang hendak dilepaskan itu adalah pukulan
Kelabang Hijau. Hebatnya bukan main dan sangat beracun….”
Jarot Karsa menindih rasa terkejutnya. “Pukulan Kelabang Hijau….” Keluhnya
dalam hati. Hampir-hampir tak dapat dipercayanya kalau tidak menyaksikan sendiri. Dia
tahu betul bahwa di dunia persilatan hanya ada satu manusia yang memiliki ilmu pukulan
yang dahsyat ini yaitu seorang Resi bernama Tapak Gajah yang diam di lereng Gunung
Lawu. Tapi kini muncul seorang lain yang memiliki ilmu pukulan itu. Apakah Mahesa
Birawa ini muridnya Tapak Gajah?
Kerut-kerut pada kening Jarot Karsa mengendur sedikit. Dicobanya menunjukkan
mimik mengejek.
“Hanya pukulan Kelabang Hijau, apakah perlu ditakutkan …!” kata seorang tua
bungkuk itu.
Diam-diam Mahesa Birawa menjadi kaget melihat bahwa lawan mengetahui ilmu
pukulan yang hendak dilepaskannya. Cepat dia membentak.
“Kalau sudah tahu mengapa tidak segera berlutut, anjing tua?!”ഊ“Hanya monyet edan yang akan mau berlutut di hadapanmu Mahesa Birawa.
Terimalah ini ….”
Dan Jarot Karsa mendahului melepaskan pukulan tangan kosong yang dahsyat.
Setengah tombak lagi angin pukulan yang menghembuskan maut itu melanda
tubuh dan kepala Mahesa Birawa maka kelihatanlah laki-laki ini meninjukan tangan
kanannya ke muka!
Setiup angin laksana topan prahara dan mengeluarkan sinar hijau melesat ke
muka. Angin pukulan Jarot Karsa terdorong dan balik menyerang orang tua itu sendiri!
Jarot Karsa melompat ke samping. Tapi tak keburu. Sinar hijau pukulan Kelabang
Hijau telah melanda pinggangnya. Suci menjerit dan menutup mukanya dengan kedua
tangan. Orang tua itu berteriak setinggi langit. Tubuhnya terguling di tanah. Kulitnya
kelihatan hijau. Dia mengerang dan menggelepar-gelepar seketika, kemudian bila
nafasnya lepas, maka tubuhnya melingkar tanpa nyawa!
“Manusia biadab!” bentak Ranaweleng. “Orangku tiada permusuhan dengan kau.
Mengapa kau bunuh dia?!”
Mahesa Birawa atau Suranyali tertawa mengekeh.
“Sebentar lagi kau juga akan mampus, Ranaweleng! Tapi aku masih berbaik hati
untuk membiarkan kau angkat kaki dari sini. Kalau kau masih keras kepala ketahuilah
bahwa ajal sudah di depan mata!” Dan Mahesa Birawa tertawa lagi macam tadi.
“Hari ini aku mengadu nyawa dengan kau manusia iblis!” teriak Ranaweleng.
Maka menerjanglah Kepala Kampung Jatiwalu itu.

TIGA

Kedua mata Mahesa Birawa alias Suranyali yang menutup dalam tidur-tidur ayam
membuka lebar-lebar bila telinganya menangkap suara derap kaki kuda yang memasuki
pekarangan. Dia bangun dan melangkah cepat ke pintu muka. Dan matanya yang tadi
membuka lebar itu kini tampak membeliak. Setengah meloncat dia turun ke tanah.
“Ada apa dengan kalian?!” tanya Mahesa Birawa. Pertanyaan ini hampir
merupakan teriakan.
Kedua kuda itu berhenti. Penunggangnya Kalingundil dan Saksoko turun
perlahan-lahan. Pakaian mereka kotor oleh darah dan debu. Muka keduanya pucat pasi.
Melihat ini Mahesa Birawa segera maklum bahwa kedua anak buahnya itu mendapat luka
dalam yang parah.
Kalingundil berdiri terbungkuk-bungkuk sambil mengurut dada.
Pemandangannya masih berkunang-kunang. Saksoko begitu menginjakkan kakinya di
tanah segera tergelimpang, muntah darah lagi lalu pingsan!
Mahesa Birawa melompat dan cepat menubruk Saksoko. Dari dalam sabuknya
dikeluarkannya sebutir pil dan dimasukkannya ke dalam mulut Saksoko. Sebutir lagi
kemudian diberikannya pada Kalngundil.
“Telan cepat!” katanya. “Kalau sudah lekas atur jalan nafas dan darahmu!”
Kalingundil menelan pil yang diberikan lalu cepat-cepat duduk bersila di tanah
untuk mengatur jalan nafas dan darahnya. Tak lupa dia mengalirkan tenaga dalamnya ke
bagian tubuh yang tadi kena terpukul.
Satu jam kemudian keadaan Kalingundil boleh dikatakan telah kembali seperti
semula. Saksoko juga telah siuman meski masih berbaring menelentang di atas sebuah
tempat tidur.
“Sekarang,” kata Mahesa Birawa sangat tidak sabar dan sambil menggeprak meja,
“terangkan apa yang terjadi Kalingundil!”
Kalingundil tarik nafas panjang. Diurutnya dadanya beberapa kali lalu mulailah
dia memberi keterangan. Dan bila Mahesa Birawa selesai mendengar keterangan itu
maka mendidih darah di kepalanya. Mukanya hitam membesi. Kumisnya yang tebalഊmelintang bergetar. Matanya yang memang sudah besar itu dalam keadaan melotot
seperti mau tanggal dari rongganya!
“Kalingundil! Siapkan kudaku! Panggil Majineng dan Krocoweti. Kalian bertiga
ikut aku ke tempatnya itu manusia haram jadah! Lekas.…!”
Kalingundil tanpa banyak bicara tinggalkan tempat itu. Tak lama kemudian
kelihatanlah empat orang penunggang kuda menderu laksana terbang. Debu mengepul,
pasir berhamparan. Mahesa Birawa memacu kudanya di muka sekali.
Orang tua bernama Jarot Karsa itu mengusap dagunya. Tanpa berpaling pada
Ranaweleng yang berdiri di sampingnya dengan mata memandang tajam ke muka dia
berkata: “Dugaan kita tidak salah Raden. Mereka datang, agaknya yang di depan sendiri
itu adalah manusia yang bernama Mahesa Birawa….”
Ranaweleng memandang pula ke muka. Hatinya mengeluh. Inilah hari pertama
selama menjadi Kepala Kampung dia menghadapi kesukaran dan kekerasan macam
begini! Bahkan dia tadi belum sempat menyelesaikan pembicaraannya dengan Suci
ketika Jarot Karsa memanggilnya, memberitahu kedatangan empat penunggang kuda itu.
Ketika Mahesa Birawa sampai di halaman, Suci pun saat itu sudah berdiri di belakang
suaminya.
Mahesa Birawa hentikan kudanya. Sorotan matanya seganas serigala kelaparan
tertuju pada Ranaweleng. Di belakangnya Kalingundil memberikan kisikan.
“Laki-laki tua yang berdiri di dekat tiang itulah bangsatnya yang telah mencelakai
aku dan Saksoko. Hati-hati terhadap dia Mahesa. Ilmunya tinggi sekali….”
“Kau manusia kintel tutup mulut! Tak usah kasih nasihat padaku!” membentak
Mahesa Birawa.
Kalingundil terdiam. Digigitnya bibirnya. Dan saat itu dendam serta bencinya
terhadap kedua orang yang berdiri di langkan rumah itu, terutama Jarot Karsa, tak dapat
lagi dilukiskan.
Mahesa Birawa memandang sekilas pada Suci yang berdiri di belakang suaminya.
Nafsu untuk dapat memiliki perempuan ini yang tak kesampaian atau belum kesampaian
membuat amarahnya semakin meluap-luap. Dadanya seperti mau pecah. Saat itu meski
sudah bersuami dan punya anak satu tapi Suci dilihatnya semakin tambah cantik dan
muda jelita.ഊBola mata Mahesa Birawa bergerak ke jurusan Jarot Karsa setelah terlebih dahulu
menyapu tampang Ranaweleng dengan garangnya.
“Anjing tua yang di atas langkan turunlah untuk menerima mampus!”
Suara Mahesa Birawa begitu lantang dan menggetarkan karena disertai tenaga
dalam yang tinggi sudah mencapai puncak kesempurnaannya.
Jarot Karsa sunggingkan senyum tawar. Sekali dia menggerakkan kedua kakinya
maka setengah detik kemudian dia sudah berdiri di tanah, beberapa tombak di hadapan
kuda Mahesa Birawa. Gerakannya waktu melompat tadi enteng sekali. Senyum datar
yang mengejek tersungging lagi di muka orang tua ini.
“Ini manusianya yang bernama Mahesa Birawa?! Yang inginkan isteri orang?!
Kalau kau tidak sedeng tentu sinting! Apa kunyukmu yang satu ini sudah kasih tahu
padamu agar mencari dukun untuk mengobati otak miringmu?!”
Bergetar badan Mahesa Birawa mulai dari ubun-ubun sampai ke ujung jari-jari
kaki!
“Anjing tua yang tak tahu diri, hari ini terpaksa kau harus pasrahkan nyawa
kepadaku!”
Mahesa Birawa enjot diri, melompat turun dari kuda. Dalam keadaan tubuh
melayang demikian rupa kedua tangannya dipukulkan ke muka. Dua rangkum angin
sedahsyat badai membungkuk itu Debu dan pasir menggebubu!
Jarot Karsa melengking dan melompat setinggi tiga tombak ke atas. Angin
pukulan yang dahsyat lewat di bawah kedua kakinya.
Pada detik dia hendak mengirimkan serangan balasan maka berserulah
Ranaweleng.
“Bapak Jarot minggirlah! Biar aku yang hadapi manusia pengacau ini!”
“Ah Raden ….” Kata Jarot Karsa dalam keadaan tubuh masih mengapung di
udara. “Biarlah aku yang sudah tua ini kasih pelajaran padanya! Tak usah Raden bersusah
payah. Dalam satu dua jurus ini akan kusapu badannya keluar halaman!”
Mahesa Birawa kertakkan rahang. Dua tinjunya bergerak susul menyusul. Deru
angin yang dahsyat melanda ke arah Jarot Karsa. Si orang tua yang rupanya ingin
menjajaki sampai di mana ketinggian tanaga dalam lawan balas mengirimkan pukulan
tangan kosong.ഊLetusan sedahsyat meriam berdentum ketika dua tenaga dalam itu saling
bentrokan di udara. Gendang-gendang telinga seperti menjadi pecah dan pekak. Tubuh
Mahesa Birawa kelihatan berdiri gontai beberapa detik lamanya sedangkan Jarot Karsa
jatuh duduk di tanah, mandi keringat dingin!
Bukan saja Jarot Karsa sendiri, tapi Ranaweleng pun kagetnya bukan main. Suci
yang berdiri di belakang suaminya dan menyaksikan itu menjerit tertahan karena
menyangka si orang tua mendapat celaka besar. Ternyata tenaga dalam Mahesa Birawa
demikian tingginya lebih tinggi dari tenaga dalam Jarot Karsa.
Tahu kalau tenaga dalam lawan lebih unggul dari dia, Jarot Karsa segera
melompat dan menyerang. Kedua tangannya bergerak demikian cepat hampir tak
kelihatan, menyapu-nyapu dan sekali-sekali menjotos ke muka dengan dahsyatnya.
Hampir dua jurus Mahesa Birawa terkurung oleh pukulan-pukulan yang anginnya
memerihkan matanya. Mahesa Birawa atau Suranyali mau tak mau mempercepat pula
gerakannya. Tubuhnya kini laksana bayang-bayang. Bila satu jurus lagi berlalu maka
Jarot Karsa mulai merasakan tekanan-tekanan serangan yang membuatnya harus berhati-hati.
Tiga jurus lagi berlalu. Tubuh kedua manusia itu sudah hampir tak kelihatan
karena cepatnya gerakan mereka ditambah lagi dengan debu serta pasir yang
menggebubu ke udara menutupi keduanya.
Tiba-tiba diiringi dengan lengkingan yang menggetarkan dengan satu gerakan
yang sukar ditangkap oleh mata Jarot Karsa, dengan mengandalkan ilmu mengentengi
tubuhnya yang lebih tinggi sedikit dari lawan dia menyorongkan siku kirinya ke muka.
Tubuh lawan dilihatnya mengelak ke samping dan sekaligus tangannya yang lain
memapaki gerakan mengelak dari Mahesa Birawa.
“Buk!”
Mahesa Birawa terjajar sampai dua tombak ke belakang. Mulutnya memencong
menahan sakit pukulan tangan kanan Jarot Karsa yang bersarang di dada kirinya. Cepat-cepat
dialirkannya tenaga dalam ke bagian yang kena pukul itu, Jarot Karsa tertawa
mengekeh.
“Jika kau masih juga belum mau angkat kaki dari sini bersama kunyuk-kunyukmu
itu, jangan menyesal kalau mukamu nanti akan benjat benjut macam mangga busuk!”ഊTampang Mahesa Birawa kelam membesi. Kedua kakinya merenggang. Tangan
kiri dipentang lurus-lurus ke muka. Tangan kanan ditarik tinggi-tinggi ke belakang di atas
kepala. Pelipisnya kelihatan bergerak-gerak. Tangan kanan Mahesa Birawa kemudian
kelihatan menjadi hijau, makin hijau dan bergeletar.
“Bangsat tua bangka!” kertak Mahesa Birawa, “Lihat tangan kananku. Kenalkah
kau akan pukulan yang akan kulepaskan ini….!”
Jarot Karsa kerutkan kening. Matanya memandang lekat-lekat ke tangan kanan
Mahesa Birawa yang semakin lama semakin bertambah hijau itu. Meski dia sudah hidup
hampir tujuh puluh tahun, meski pengalamannya di dunia persilatan setinggi langit
sedalam lautan namun kali ini mau tak mau tergetar juga hatinya melihat tangan kanan
lawan itu, ditambah lagi dia sama sekali tidak tahu ilmu pukulan apakah yang akan
dilancarkan oleh lawannya!
Akan Ranaweleng, begitu melihat tangan kanan Mahesa Birawa yang menjadi
hijau itu, kagetnya bukan main. Dengan cepat dia memberikan kisikan pada Jarot Karsa
dengan mempergunakan ilmu “Menyusupkan Suara”.
“Bapak Jarot, hati-hati. Pukulan yang hendak dilepaskan itu adalah pukulan
Kelabang Hijau. Hebatnya bukan main dan sangat beracun….”
Jarot Karsa menindih rasa terkejutnya. “Pukulan Kelabang Hijau….” Keluhnya
dalam hati. Hampir-hampir tak dapat dipercayanya kalau tidak menyaksikan sendiri. Dia
tahu betul bahwa di dunia persilatan hanya ada satu manusia yang memiliki ilmu pukulan
yang dahsyat ini yaitu seorang Resi bernama Tapak Gajah yang diam di lereng Gunung
Lawu. Tapi kini muncul seorang lain yang memiliki ilmu pukulan itu. Apakah Mahesa
Birawa ini muridnya Tapak Gajah?
Kerut-kerut pada kening Jarot Karsa mengendur sedikit. Dicobanya menunjukkan
mimik mengejek.
“Hanya pukulan Kelabang Hijau, apakah perlu ditakutkan …!” kata seorang tua
bungkuk itu.
Diam-diam Mahesa Birawa menjadi kaget melihat bahwa lawan mengetahui ilmu
pukulan yang hendak dilepaskannya. Cepat dia membentak.
“Kalau sudah tahu mengapa tidak segera berlutut, anjing tua?!”ഊ“Hanya monyet edan yang akan mau berlutut di hadapanmu Mahesa Birawa.
Terimalah ini ….”
Dan Jarot Karsa mendahului melepaskan pukulan tangan kosong yang dahsyat.
Setengah tombak lagi angin pukulan yang menghembuskan maut itu melanda
tubuh dan kepala Mahesa Birawa maka kelihatanlah laki-laki ini meninjukan tangan
kanannya ke muka!
Setiup angin laksana topan prahara dan mengeluarkan sinar hijau melesat ke
muka. Angin pukulan Jarot Karsa terdorong dan balik menyerang orang tua itu sendiri!
Jarot Karsa melompat ke samping. Tapi tak keburu. Sinar hijau pukulan Kelabang
Hijau telah melanda pinggangnya. Suci menjerit dan menutup mukanya dengan kedua
tangan. Orang tua itu berteriak setinggi langit. Tubuhnya terguling di tanah. Kulitnya
kelihatan hijau. Dia mengerang dan menggelepar-gelepar seketika, kemudian bila
nafasnya lepas, maka tubuhnya melingkar tanpa nyawa!
“Manusia biadab!” bentak Ranaweleng. “Orangku tiada permusuhan dengan kau.
Mengapa kau bunuh dia?!”
Mahesa Birawa atau Suranyali tertawa mengekeh.
“Sebentar lagi kau juga akan mampus, Ranaweleng! Tapi aku masih berbaik hati
untuk membiarkan kau angkat kaki dari sini. Kalau kau masih keras kepala ketahuilah
bahwa ajal sudah di depan mata!” Dan Mahesa Birawa tertawa lagi macam tadi.
“Hari ini aku mengadu nyawa dengan kau manusia iblis!” teriak Ranaweleng.
Maka menerjanglah Kepala Kampung Jatiwalu itu.

DUA

Keduanya menghentikan kuda di hadapan seorang laki-laki tua yang tengah mencabuti
rumput halaman. Tanpa turun dari kudanya Kalingundil bertanya dengan membentak
kasar.
“Ini rumahnya Ranaweleng?”
Orang tua itu berdiri perlahan-lahan dari jongkoknya. Ketika berdiri nyatalah
bahwa tubuhnya pendek dan bongkok. Ditengadahkannya kepalanya dan dikeataskannya
topi bambu yang menutupi keningnya untuk dapat melihat orang yang telah bicara
dengan membentak itu kepadanya. Orang tua ini tak segera memberikan jawaban
melainkan melirik kepada Saksoko yang duduk di atas punggung kuda di sisi kanan
Kalingundil.
“Orang tua bego!” maki Kalingundil. Laki-laki bertubuh tinggi langsing ini
memang bersifat tidak sabaran. “Aku tanya ini rumahnya Ranaweleng?!”
“Ya!” jawab orang tua itu.
“Ada keperluan apa saudara?”
Si gemuk pendek Saksoko kini yang buka suara. Suaranya parau dan tak enak
didengar. “Tak perlu tanya keperluan kami. Kamu orang tua pikun minggirlah!”
Saksoko menyentakkan tali kekang kudanya. Sekali kuda itu menghambur ke
depan maka terpelantinglah si orang tua kena terjakan kaki binatang yang ditunggangi
Saksoko itu!
Orang tua itu bangun dengan perlahan-lahan. Matanya yang mengabur dimakan
umur kelihatan menyorot. Dengan kaki kirinya ditendangnya secara acuh tak acuh topi
bambunya yang tergeletak di tanah.
Topi itu melesat ke muka laksana anak panah cepatnya dan menghantam
kemaluan kuda yang ditunggangi oleh Saksoko. Kuda jantan itu meringkik dahsyat.
Kedua kaki depannya melonjak ke atas tinggi-tinggi dan Saksoko terpelanting ke tanah!
Si orang tua diam-diam merasa puas. Dengan sikap seperti tidak terjadi apa-apa
dia memutar tubuh, jongkok kembali dan mulai lagi mencabuti rerumputan di halaman!
Bola mata laki-laki gemuk pendek itu berpijar-pijar. Untuk beberapa lamanya
segala sesuatunya menjadi guram dalam pemandangannya.ഊ“Saksoko, ada apa dengan kau?!” tanya Kalingundil terkejut dan heran.
“Aku sendiri tidak tahu,” sahut Saksoko seraya bangun dengan menepuk-nepuk
pantat celananya. Dia memandang berkeliling. Tak ada siapa-siapa kecuali orang tua
yang tadi tengah mencabuti rumput. Kemudian mata laki-laki ini membentur topi bambu
yang terletak tak berapa jauh di tanah. Hatinya curiga. Tapi bila dilihatnya lagi orang tua
kurus dan bongkok itu kecurigaannya menjadi sirna. Tak mungkin, pikirnya. Tak
mungkin kalau kakek-kakek pikun itulah yang telah melemparkan topi bambu itu ke kuda
tunggangannya.
Kalingundil sendiri juga memandang berkeliling dengan hati bertanya-tanya.
Dilihatnya orang tua itu. Dilihatnya topi itu. Kemudian dia berkata:
“Kurasa orang tua kerempeng itu….” Kalingundil memang lebih tajam
penglihatan dan perasaannya. Dalam ilmu silatpun dia lebih tinggi dua tingkat dari
Saksoko.
“Mana mungkin,” kata Saksoko pula tidak percaya.
“Coba kita lihat.”
Kalingundil turun dari kudanya. Diambilnya topi yang terletak di tanah.
Diperhatikannya topi bambu ini seketika. Matanya melirik pada orang tua yang masih
jongkok dan mencabuti rumput dekat pagar halaman. Kalingundil menggerakkan tangan
kanannya. Topi terlepas dari tangan itu dan melesat deras ke arah kepala si orang tua.
Begitu acuh tak acuh sekali, orang tua yang jongkok membelakang itu gerakkan
tangan kanannya untuk menggaruk bagian belakang kepalanya. Dan adalah mengejutkan
kedua orang anak buah Mahesa Birawa atau Suranyali ketika mereka melihat bagaimana
topi bambu itu meleset ke samping dan menggelinding di tanah!
Kalingundil dan Saksoko saling pandang.
“Apa kataku, kau lihat?” desis Kalingundil.
Melihat kenyataan ini maka geramlah si gemuk pendek Saksoko.
“Orang tua edan!” makinya. “Punya sedikit ilmu saja sudah mau kasih pamer!”
Dia membungkuk dan meraup pasir. Raupan pasir itu dilemparkannya ke arah orang tua.
Meski hanya pasir namun karena diisi dengan tenaga dalam maka pasir itu melesat hebat
dan dapat melukakan kulit membutakan mata!ഊSi orang tua tiba-tiba berdiri dan terbungkuk-bungkuk. Ditepuk-tepuknya pakaian
hitamnya seperti seseorang yang tengah membersihkan debu dari pakaiannya. Tapi
gerakannya ini sekaligus membuat berhamburannya pasir-pasir halus yang menyerang ke
arahnya!
“Kurang ajar betul!” damprat Saksoko karena merasa semakin ditantang dan
dipermainkan. Dia menerjang ke muka. Dalam jarak beberapa tombak dilepaskannya
pukulan tangan kosong. Orang tua itu memutar badannya yang bungkuk ke samping.
“Apa-apaan ini?!” tanyanya dengan suaranya yang halus melengking, “ada apa
kau serang aku?!”
Namun gerakannya tadi sekaligus telah melewatkan angin pukulan Saksoko
hanya beberapa jengkal saja di depan hidungnya.
Saksoko kertak rahang.
“Orang tua gelo! Siapa kau sebetulnya?!”
Orang tua itu menyeringai menunjukkan gusinya yang tidak bergigi barang
sepotong pun.
“Aku sudah tua, tak usah bicara memaki!” katanya dan didorongkannya telapak
tangan kanannya ke depan. Setiup angin dahsyat melanda tubuh Saksoko. Kalau tidak
cepat-cepat menghindar pastilah si gemuk pendek ini akan mendapat celaka.
Begitu melompat ke samping segera dia kirimkan satu jotosan ke dada orang tua
itu. Pada saat inilah dari pintu terdengar seruan keras:
“Ada apa ini?! Tahan!”
Saksoko tarik pulang tangannya dan berpaling. Seorang laki-laki muda berparas
gagah dilihatnya keluar dari rumah dan berdiri di tangga langkan. Kemudian dilihatnya
Kalingundil memberi isyarat agar datang mendekatnya. Meski hatinya masih diselimuti
amarah terhadap si orang tua tapi melihat isyarat kawannya itu segera dia datang juga.
Keduanya melangkah ke hadapan langkan rumah.
“Kau Ranaweleng?” tanya Kalingundil membentak.
Selama menjadi Kepala Kampung di Jatiwalu baru ini harilah Ranaweleng
dibentak orang demikian rupa dan oleh orang asing pula! Dari tampang-tampang serta
sikap kedua tamunya itu Ranaweleng segera maklum bahwa mereka tentu datang bukan
membawa maksud baik. Namun demikian dengan suara ramah dia menjawab.ഊ“Betul! Saudara, aku memang Ranaweleng,” lalu tanyanya kemudian. “Saudara-saudara
datang dari mana dan ada keperluan apakah?”
Kalingundil cabut gulungan surat dari balik pakaiannya.
“Ini! Silahkan baca!” katanya.
Gulungan surat itu dilemparkan ke hadapan Ranaweleng. Karena lemparan itu
disertai dengan aliran tenaga dalam maka surat tersebut melesat berdesing dan ujung
kayu di mana surat itu disepit menancap pada tiang langkan!
Ranaweleng kaget. Ditekannya rasa kaget itu dan dicabutnya surat yang
menancap dari tiang langkan lalu dibacanya. Kalingundul dan Saksoko
memperhatikannya dengan bertolak pinggang.
Ranaweleng keparat!
Aku kasih tempo satu hari untukmu agar angkat kaki dari Jatiwalu ini! Bawa
anakmu tapi tinggalkan isterimu! Ini adalah perintah! Kalau kau tidak patuhi, jangan
harap kau bisa melihat matahari tenggelam esok hari! Ini adalah perintah!
Mahesa Birawa
Bergetar sekujur tubuh Ranaweleng. Dadanya panas dikobari luapan hawa
amarah. Dia tak pernah kenal dengan manusia yang bernama Mahesa Birawa itu, bahkan
juga tak pernah dengar nama atau riwayat manusia itu sebelumnya.
Matanya memandang melotot pada kedua tamunya. “Mahesa Birawa ini siapa?”
tanya Ranaweleng.
Kalingundil meludah dahulu ke tanah sebelum menjawab. “Laki-laki yang kau
rampas kekasihnya dan yang kini menjadi isterimu!”
Kaget Ranaweleng bukan alang kepalang. Belum dia sempat bicara Saksoko
mendahului.
“Mahesa Birawa inginkan jawabanmu hari ini juga Ranaweleng!”
Kalingundil menyambungi, “Dan sebaiknya….apa yang tertulis di surat itu kau
ikuti saja.”
“Kalau tidak?” tanya Ranaweleng dengan menindih rasa geramnya.ഊKalingundil tertawa mengekeh. Gigi-giginya kelihatan besar-besar dan coklat
kehitaman.
Ranaweleng tak dapat lagi menahan luapan amarahnya. Diremasnya dan dipatah-patahkannya
kayu penyepit surat lalu dilemparkannya ke kepala Kalingundil, tepat
mengenai mulut yang sedang mengekeh itu!
“Bangsat rendah!” hardik Kalingundil. Dia meloncat ke muka. “Kau berani
berlaku kurang ajar terhadapku huh?!”
“Tak usah jual lagak di sini setan!” balas menghardik Ranaweleng. “Kalian
budak-budak sinting kembalilah kepada majikan kalian! Bilang sama itu manusia Mahesa
Birawa agar lekas-lekas pergi mencari dukun untuk mengobati otaknya yang tidak
waras!”
“Betul-betul anjing budak yang tidak tahu diri!” semprot Saksoko. Dari tadi dia
memang sudah beringasan gara-gara si orang tua yang telah mempermainkan dan
setengah menantangnya tadi. Sekali dia ayun langkah maka satu tendangan yang
didahului oleh angin yang hebat melanda ke bawah perut Ranaweleng.
Melihat musuh yang inginkan jiwanya ini Ranaweleng menggeram dan kertakkan
rahang. Dia berkelit ke samping dan hantamkan ujung sikunya ke tulang iga lawan.
Saksoko bukan manusia yang baru belajar ilmu silat kemarin. Sambil melompat ke atas
lututnya ditekuk dan disorongkan ke kepala lawan. Ranaweleng merunduk dan lompat ke
samping. Sebelum dia berbalik untuk mengirimkan pukulan ke punggung lawan yang
saat itu masih belum menginjak lantai langkan maka terdengarlah suara seseorang.
“Ah, Raden Ranaweleng, mengapa musti mengotori tangan terhadap kunyuk
kesasar ini?! Biar aku si tua bangka Jarot Karsa yang kasih sedikit pelajaran sopan santun
terhadapnya!”
Ternyata yang berkata itu adalah orang tua renta kurus kerempeng yang tadi
mencabuti rumput di halaman, yang merupakan pembantu Kepala Kampung Jatiwalu.
Mendengar dirinya dimaki sebagai kunyuk kesasar maka marahlah Saksoko. Dia
membalik dan menyerang orang tua itu kini dengan satu pukulan jarak jauh yang
menimbulkan angin deras. Angin pukulan ini menyerang ke pusat jantung di dada Jarot
Karsa. Dengan begitu Saksoko berkehendak untuk mencabut nyawa si orang tua detik itu
juga!ഊTapi Jarot Karsa ganda tertawa.
Sekali dia gerakkan tangan kanannya yang kurus maka setiap angin dahsyat
memapaki serangan si gemuk pendek Saksoko. Angin pukulan Saksoko menyungsang
balik menyerang Saksoko sendiri. Ditambah dengan dorongan angin pukulan si orang
tua maka kedahsyatannya bukan olah-olah!
Tubuh Saksoko mencelat keluar langkan rumah sampai tiga tombak dan
menggelinding di tanah. Dicobanya bangun kembali. Tapi tubuh itu segera rebah lagi
setelah terlebih dulu dari mulut Saksoko menyembur darah kental dan segar!
Kaget Kalingundil bukan kepalang. Mukanya hitam membesi. Laki-laki ini
menerjang ke depan. Terjangan ini disertai dengan bentakan yang keras menggeledek
membuat langkan rumah dan tanah menjadi bergetar!
Jarot Karsa merunduk cepat. Gerakannya ini disusul dengan cepat oleh
Kalingundil. Serangkum angin keras dan dingin menyerang ke seluruh jalan darah di
tubuh di orang tua. Pasir menderu beterbangan, debu menggebubu.
Jarot Karsa cepat-cepat dorongkan tangan kanannya ke muka. Maka dua angin
pukulan bertemu di udara menimbulkan suara berdentum seperti letusan meriam! Tubuh
Jarot Karsa kelihatan bergoyang gontai sedang Kalingundil terdampar ke tanah tapi cepat
bangun lagi!
Keringat dingin memercik di kening anak buah Mahesa Birawa ini. Nyalinya
menciut kecil. Tak nyana si orang tua memiliki kehebatan demikian rupa! Tak diduganya
sama sekali kalau tenaga dalamnya ada di bawah angin berhadapan dengan tenaga dalam
Jarot Karsa.
Tapi laki-laki ini, yang menjadi buta matanya dan tumpul pikirannya karena
amarah dan kebencian yang meluap, tidak memikirkan lagi bahwa sesungguhnya si orang
tua bukan tandingannya.
Kedua tangannya dipentang ke muka. Tangan itu kelihatan bergetar. Jarot Karsa
dan juga Ranaweleng memperhatikan gerak gerik manusia itu dengan tajam. Kelihatan
kini bagaimana sepasang tangan Kalingundil sampai ke jari-jari tangannya berwarna
kehitaman.
“Ha… ha….” terdengar kekehan si tua Jarot Karsa, “Kau hendak pamerkan Ilmu
Lengan Tangan Baja?!”ഊKalingundil terkejut. Terkejut karena belum apa-apa musuh sudah mengetahui
ilmu simpanan yang paling diandalkannya. Tapi ini tidak diperlihatkannya, bahkan dia
pentang mulut.
“Bagus, penglihatanmu tajam juga huh! Tapi tahukah kau kehebatan ilmu pukulan
Lengan Tangan Baja ini?!”
“Kau tak perlu banyak bacot Kalingundil, majulah!” tantang Jarot Karsa.
Kalingundil menggeram. Kebetulan saat itu dia berdiri di dekat langkan rumah.
Sekali ayunkan tangan kanannya maka:
“Brak!”
Tiang langkan yang besarnya hampir menyamai paha manusia patah. Atap rumah
menurun miring!
Sebenarnya Jarot Karsa kagum juga dengan kehebatan ilmu lawannya itu. Tapi
sebagai orang tua yang sudah banyak pengalaman dalam dunia persilatan masakan dia
jerih menghadapi baru ilmu pukulan macam begitu saja!
“Ayo monyet kesasar, majulah!” katanya dengan terbungkuk-bungkuk.
Kedua telapakan kaki Kalingundil menjejak tanah. Tubuhnya melesat ke muka,
sedikit miring. Kaki kiri dan kaki kanan mengirimkan serangan berantai terlebih dahulu
kemudian menyusul sepasang lengannya yang menghitam oleh aji “Lengan Tangan
Baja”. Angin yang ditimbulkan oleh serangan dua lengan ini dahsyatnya bukan alang
kepalang, tajam dan memerihkan mata. Lengan kiri membabat ke pinggang Jarot Karsa,
kalau kena pastilah pinggang orang tua itu akan terkutung dua. Lengan kanan
menghantam dari atas ke bawah mengincar batok kepala Jarot Karsa. Dapat dibayangkan
bagaimana dalam sekejapan mata lagi kepala si orang tua akan hancur berantakan!
Pekikan setinggi langit yang hampir merupakan lolongan serigala haus darah
melengking menegakkan bulu roma! Kalingundil melingkar di tanah. Nafasnya sesak,
lidahnya menjulur keluar seperti orang tercekik dan matanya melotot. Tubuhnya
bergerak-gerak beberapa lamanya kemudian ketika darah menyembur dari mulutnya,
tubuh itu pun tak bergerak-gerak lagi! Kalingundil pingsan menyusul kawannya yang
terdahulu.ഊRanaweleng menghela nafas dalam. Dipandanginya kedua manusia yang
melingkar di tanah itu. Kemudian dia berpaling pada si orang tua. “Bapak Jarot Karsa,
kau kenal dengan manusia yang bernama Mahesa Birawa itu?”
Jarot Karsa menggeleng.
“Siapa dia tidak penting, Raden. Yang penting ialah mulai saat ini kita musti
waspada karena cepat atau lambat manusia itu pasti datang ke sini untuk membuat
perhitungan dengan kita!”
Ranaweleng mengangguk.
“Aku tak ingin melihat kedua orang ini lebih lama di depan rumahku. Bereskan
mereka, Pak Jarot.”
Si orang tua tertawa mengekeh.
“Tak usah khawatir … tak usah khawatir. Aku akan sapu mereka dari depan
hidungmu, Raden.”
Dua kali kaki kanan Jarot Karsa yang kurus kering itu menendang. Tubuh
Kalingundil dan Saksoko mencelat seperti bola, dan angsrok di luar pagar halaman!.

4 BEREWOK DARI GOA SANGGRENG

SATU
Ini! Kata laki-laki berkumis melintang itu dengan suara kasar. “Berikan sama dia! Aku
harus terima jawaban hari ini juga Kalingundil! Kau dengar?”
Orang yang bernama Kalingundil mengangguk. Diambilnya surat yang
disodorkan.
“Kalau dia banyak bacot…” kata laki-laki berkumis melintang itu pula, “bikin
beres saja. Berangkat sekarang, jika perlu bawa Saksoko!”
Kalingundil berdiri dan meninggalkan ruangan itu. Dan bila Kalingundil baru saja
lenyap di balik pintu menggerendenglah Suranyali, laki-laki yang berkumis tebal itu.
“Betul-betul perempuan laknat! Perempuan haram jadah!” Dibulatkannya tinju
kanannya dan dipukulnya meja kayu jati di hadapannya.
“Braak!”
Papan meja pecah. Keempat kaki meja amblas sampai tiga senti ke dalam lantai
ubin dan ubin itu sendiri retak-retak! Kemudian dia berdiri. Tubuhnya menggeletar oleh
amarah yang hampir tak bisa dikendalikannya lagi. Dan mulutnya terbuka kembali. Dia
memaki-maki lagi seorang diri.
“Perempuan keblinger! Ditinggal satu tahun tahu-tahu kawin! Bunting malah dan
punya anak malah! Keparat!” Suranyali berdiri dengan nafas menghempas-hempas di
muka jendela lalu dia melangkah ke meja lain yang juga terdapat di ruangan itu. Dari
dalam sebuah kendi diteguknya air putih dingin. Tapi baru dua teguk air melewati
tenggorokannya, isi kendi itu habis.
“Keparat!” maki Suranyali lagi. Dibantingkannya kendi itu ke tanah hingga pecah
berantakan. Seorang perempuan separuh baya memunculkan kepalanya di pintu sebelah
sana namun melihat Suranyali yang lagi beringasan ia cepat-cepat menghilang kembali.
Akhirnya Suranyali letih sendiri memaki-maki dan marah-marah seperti itu.
Dibantingkannya badannya ke sebuah kursi. Dan kini terasa olehnya betapa letih
badannya.
“Lujeng!” teriak Suranyali.
Perempuan separuh baya yang tadi memunculkan diri di pintu masuk bergegas.
“Ya, Denmas Sura….”ഊ“Kau juga keparat!” damprat Suranyali pada perempuan itu. Ludahnya
menyemprot dan Wilujeng tak berani menyeka ludah yang membasahi mukanya.
“Sudah berapa kali aku bilang jangan panggil aku dengan nama itu! Apa kau
sudah gila hingga lupa terus-terusan?! Kau gila ya hah?!”
Wilujeng terdiam dengan tubuh menggigil ketakutan. Lagi-lagi dia lupa. Lagi-lagi
dia memanggil laki-laki itu dengan Sura padahal sudah sering Suranyali memerintahkan
agar dia memanggil dengan nama Mahesa Birawa.
“Perempuan monyong! Aku tanya kau sudah gila, jawab!”
“Tidak Denmas Su… eh Mahesa Birawa….”
“Kalau tidak gila kau mustinya sinting! Ambilkan aku air, lekas!”
Wilujeng putar tubuh. Sebentar kemudian dia sudah kembali membawa segelas
besar air putih. Air yang dingin itu menyejukkan hati Suranyali sedikit. Kemudian dia
duduk tenang-tenang di kursi itu dan bila matanya dipicingkannya, maka kembali
terbayang saat setahun yang lewat.
Waktu itu dia sudah lama berkenalan dengan Suci. Dia tahu bahwa gadis itu tidak
suka terhadapnya, tapi dengan menemui Suci terus-terusan di tepi kali tempat mencuci
dia berharap lama-lama akan dapat juga melunakkan hati gadis itu. Memang akhirnya
Suci mau juga bicara-bicara melayani Suranyali, tapi ini bukanlah karena dia suka
terhadap Sura melainkan karena kasihan belaka. Tapi celakanya Suranyali salah tafsir.
Dia menduga bahwa kini Suci sudah terpikat kepadanya.
Satu ketika Sura dipanggil oleh seorang sakti di Gunung Lawu. Sebelum pergi
Sura menemui Suci dan berkata: “Suci, aku akan pergi ke Gunung Lawu. Mungkin satu
tahun aku baru kembali. Kuharap kau mau menunggu dengan sabar. Jika aku kembali aku
akan mengawini kau….”
“Tapi Kangmas Sura….”
Suci menghentikan kata-katanya karena saat itu dilihatnya Suranyali melangkah
ke hadapannya dan mengulurkan tangan untuk memeluknya.
Suci mundur.
“Jangan Kangmas. Nanti kelihatan orang….”
Kemudian Suranyali pergi tanpa ada lagi kesempatan bagi Suci untuk
menerangkan bahwa dia tidak suka pada laki-laki itu, bahwa dia menolak lamaran tadi!ഊDan dalam kepergian Suranyali itu maka Suci kemudian kawin dengan Ranaweleng
seorang pemuda yang dicintainya dan juga mencintainya. Bagi Suci perkawinannya
dengan Ranaweleng itu sama sekali bukan pengkhianatan atas diri Suranyali karena
memang dia tidak mencintai Suranyali dan juga tidak pernah menyatakan cintanya.
Demikianlah, bila hari itu Suranyali kembali dari perjalanannya maka kabar
pertama yang didengarnya, yang begitu menyentakkan darah amarahnya ialah bahwa
Suci telah kawin dengan Ranaweleng. Kedua suami istri itu bahkan sudah mempunyai
seorang anak laki-laki. Kehidupan mereka meski sederhana tapi bahagia dan kini
Ranaweleng sudah menjadi Kepala Kampung Jatiwalu.
Jika Suranyali seorang manusia punya muka dan punya harga diri sebenarnya
mengetahui perkawinan Suci itu dia musti bersikap mundur karena adalah memalukan
sekali bila dia terus-terusan menginginkan Suci sedang Suci tidak mencintainya apalagi
kini sudah bersuami dan beranak pula. Tapi dasar Suranyali bukan manusia berpikiran
jernih, lekas kalap dan naik darah membabi buta maka hari itu juga dikirimkannya dua
anak buahnya ke Jatiwalu untuk membawa sepucuk surat ancaman kepada Ranaweleng.
Suranyali yang kini memakai nama Mahesa Birawa bangkit dari kursinya ketika
didengarnya suara gemuruh kaki-kaki kuda di halaman. Dia melangkah ke jendela dan
memperhatikan kepergian kedua orang anak buahnya. Jari-jari tangannya mencengkeram
sanding jendela.
“Suci musti dapat… musti dapat!” katanya dalam hati yang dikecamuk amarah
itu.
“Kalau tidak…” Mahesa Birawa tak meneruskan kata-katanya. Sebagai ganti
tangan kirinya bergerak memukul dinding jendela. Dan kayu sanding itu pecah
berantakan.

Rabu, 01 Juni 2011

Daftar judul novel Wiro Sableng

Wiro Sableng - Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: (Alm) Bastian Tito

Daftar Judul :

Episode Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (3 episode)
001. Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
002. Maut Bernyanyi Di Pajajaran
003. Dendam Orang Orang Sakti

004. Keris Tumbal Wilayuda
005. Neraka Lembah Tengkorak
006. Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
007. Tiga Setan Darah Dan Cambuk Api Angin
008. Dewi Siluman Bukit Tunggul
009. Rahasia Lukisan Telanjang
010. Banjir Darah Di Tambun Tulang
011. Raja Rencong Dari Utara
012. Pembalasan Nyoman Dwipa
013. Kutukan Empu Bharata
014. Sepasang Iblis Betina
015. Mawar Merah Menuntut Balas
016. Hancurnya Istana Darah

Petualangan Wiro di negeri Tiongkok/China (3 episode)
017. Lima Iblis Dari Nanking
018. Pendekar Pedang Akhirat
019. Pendekar Dari Gunung Naga

020. Hidung Belang Berkipas Sakti
021. Neraka Puncak Lawu
022. Siluman Teluk Gonggo
023. Cincin Warisan Setan
024. Penculik Mayat Hutan Roban
025. Cinta Orang Orang Gagah
026. Iblis Iblis Kota Hantu
027. Khianat Seorang Pendekar

Episode Petaka Gundik Jelita (2 episode)
028. Petaka Gundik Jelita
029. Bencana Di Kuto Gede

030. Dosa Dosa Tak Berampun

Episode Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi (3 episode)
031. Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
032. Bajingan Dari Susukan
033. Panglima Buronan

034. Munculnya Sinto Gendeng
035. Telaga Emas Berdarah
036. Dewi Dalam Pasungan
037. Maut Bermata Satu
038. Iblis Berjanggut Biru
039. Kelelawar Hantu
040. Setan Dari Luar Jagat
041. Malaikat Maut Berambut Salju
042. Badai Di Parangtritis
043. Dewi Lembah Bangkai
044. Topeng Buat Wiro Sableng
045. Manusia Halilintar
046. Serikat Setan Merah
047. Pembalasan Ratu Laut Utara
048. Memburu Si Penjagal Mayat
049. Srigala Iblis
050. Mayat Hidup Gunung Klabat
051. Raja Sesat Penyebar Racun
052. Guna Guna Tombak Api
053. Kutukan Dari Liang Kubur
054. Pembalasan Pendekar Bule
055. Misteri Dewi Bunga Mayat
056. Ratu Mesum Bukit Kemukus
057. Nyawa Yang Terhutang
058. Bahala Jubah Kencono Geni
059. Peti Mati Dari Jepara
060. Serikat Candu Iblis
061. Makam Tanpa Nisan
062. Kamandaka Si Murid Murtad
063. Neraka Krakatau
064. Betina Penghisap Darah
065. Hari Hari Terkutuk
066. Singa Gurun Bromo

Episode Halilintar Di Singosari (2 episode)
067. Halilintar Di Singosari
068. Pelangi Di Majapahit

Episode Ki Ageng Tunggul Keparat (2 episode)
069. Ki Ageng Tunggul Keparat
070. Ki Ageng Tunggul Akhirat

071. Bujang Gila Tapak Sakti
072. Purnama Berdarah
073. Guci Setan

Episode Dendam Di Puncak Singgalang (2 episode)
074. Dendam Di Puncak Singgalang
075. Harimau Singgalang

076. Kutunggu Di Pintu Neraka
077. Kepala Iblis Nyi Gandasuri

Petualangan Wiro di negeri Sakura/Jepang (3 episode)
078. Pendekar Dari Gunung Fuji
079. Ninja Merah
080. Sepasang Manusia Bonsai

Episode Dendam Manusia Paku (2 episode)
081. Dendam Manusia Paku
082. Dewi Ular

Episode Wasiat Iblis (8 episode)
083. Wasiat Iblis
084. Wasiat Dewa
085. Wasiat Sang Ratu
086. Delapan Sabda Dewa
087. Muslihat Para Iblis
088. Muslihat Cinta Iblis
089. Geger Di Pangandaran
090. Kiamat Di Pangandaran

Episode Tua Gila Dari Andalas (11 episode)
091. Tua Gila Dari Andalas
092. Asmara Darah Tua Gila
093. Lembah Akhirat
094. Pedang Naga Suci 212
095. Jagal Iblis Makam Setan
096. Utusan Dari Akhirat
097. Liang Lahat Gajahmungkur
098. Rahasia Cinta Tua Gila
099. Wasiat Malaikat
100. Dendam Dalam Titisan
101. Gerhana Di Gajahmungkur

Episode Bola Bola Iblis/petualangan Wiro di Latanahsilam (18 episode)
102. Bola Bola Iblis
103. Hantu Bara Kaliatus
104. Peri Angsa Putih
105. Hantu Jatilandak
106. Rahasia Bayi Tergantung
107. Hantu Tangan Empat
108. Hantu Muka Dua
109. Rahasia Kincir Hantu
110. Rahasia Patung Menangis
111. Hantu Langit Terjungkir
112. Rahasia Mawar Beracun
113. Hantu Santet Laknat
114. Badai Fitnah Latanahsilam
115. Rahasia Perk4w1n4n Wiro
116. Hantu Selaksa Angin
117. Muka Tanah Liat
118. Batu Pembalik Waktu
119. Istana Kebahagiaan

Episode Kembali Ke Tanah Jawa (6 episode)
120. Kembali Ke Tanah Jawa
121. Tiga Makam Setan
122. Roh Dalam Keraton
123. Gondoruwo Patah Hati
124. Makam Ke Tiga
125. Senandung Kematian

Episode Badik Sumpah Darah (7 episode)
126. Badik Sumpah Darah
127. Mayat Persembahan
128. Si Cantik Dalam Guci
129. Tahta Janda Berdarah
130. Meraga Sukma
131. Melati Tujuh Racun
132. Kutukan Sang Badik

Episode 113 Lorong Kematian (10 episode)
133. 113 Lorong Kematian
134. Nyawa Kedua
135. Rumah Tanpa Dosa
136. Bendera Darah
137. Aksara Batu Bernyawa
138. Pernikahan Dengan Mayat
139. Api Cinta Sang Pendekar
140. Misteri Pedang Naga Suci 212
141. Kematian Kedua
142. Kitab 1000 Pengobatan

Episode Perjanjian Dengan Roh (5 episode)
143. Perjanjian Dengan Roh
144. Nyi Bodong
145. Lentera Iblis
146. Azab Sang Murid
147. Api Di Puncak Merapi

Episode Dadu Setan (4 episode)
148. Dadu Setan
149. Si Cantik Dari Tionggoan
150. Misteri Pedang Naga Merah
151. Sang Pembunuh

Episode Petaka Patung Kamasutra (6 episode)
152. Petaka Patung Kamasutra
153. Misteri Bunga Noda
154. Insan Tanpa Wajah
155. Sang Pemikat
156. Topan Di Gurun Tengger
157. Nyawa Titipan

Episode Si Cantik Gila Dari Gunung Gede (8 episode)
158. Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
159. Bayi Satu Suro
160. Dendam Mahluk Alam Roh
161. Perjodohan Berdarah
162. Badai Laut Utara
163. Cinta Tiga Ratu
164. Janda Pulau Cingkuk
165. Bayi Titisan

Episode Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok (5 episode)
166. Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
167. Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
168. Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
169. Bulan Sabit Di Bukit Patah
170. Kupu-Kupu Mata Dewa

Episode Malam Jahanam Di Mataram/petualangan Wiro di masa kerajaan Mataram Kuno (13 episode)
171. Malam Jahanam Di Mataram
172. Empat Mayat Aneh
173. Roh Jemputan
174. Dua Nyawa Kembar
175. Sepasang Arwah Bisu
176. Dewi Kaki Tunggal
177. Jaka Pesolek Penangkap Petir
178. Tabir Delapan Mayat
179. Delapan Sukma Merah
180. Sesajen Atap Langit
181. Selir Pamungkas
182. Delapan Pocong Menari
183. Bulan Biru Di Mataram

Episode Bidadari Dua Musim/masih petualangan Wiro di masa kerajaan Mataram Kuno (terhenti saat baru 2 episode)
184. Dewi Dua Musim
185. Jabang Bayi Dalam Guci